Me time that results in reflection
Apakah benar jika selama ini aku hanya membuat skenario sendiri di dalam pikiranku? Skenario tentang orang yang baru saja aku kenal, skenario terbaik tentang orang yang aku merasa bahwa aku tertarik dengannya dalam waktu yang singkat?
Keputusanku untuk menyendiri selama kurang dari 24 jam terakhir benar-benar membuatku berpikir keras tentang apa yang sudah pernah aku alami selama ini. Dan berakhir menorehkan sebuah pertanyaan besar tentang diriku sendiri. Bukan tentang orang lain, melainkan diriku. Ternyata kesendirian itu membuatku sadar jika aku begitu rapuh. Di keheningan malam ; bertemankan lampu hotel yang sendu dan TV yang sengaja tetap ku nyalakan tanpa peduli acara yang ditayangkan, aku terjaga. Cukup lama. Tidak memegang ponsel, tidak juga meneteskan air mata, hanya diam. Hanya lirih nafas dan suara pelan AC tentunya selain TV yang mengisi kekosongan kamar itu. Di luar terdengar sayup sayup deru motor yang sesekali melintas di jalan raya. Ku lihat jam di layar ponsel, ternyata sudah lewat tengah malam. Biasanya aku akan beranjak bangun, mengambil air wudhu dan mengadu kepada Sang Pencipta. Disitu tangisku akan pecah, dadaku terasa sakit mengingat segala dosa yang sengaja aku lakukan. Tapi, malam itu aku hanya diam. Menatap kosong langit langit kamar hotel, diiringi gerakan pelan tangan menyentuh sprei lembut dan bantal guling yang empuk. Aku menghela nafas. Pikiranku jauh menerawang tentang skenario yang bahkan aku pikirkan beberapa jam yang lalu jika dia bersamaku.
Kenapa harus seperti itu? Lagi lagi aku bertanya kepada diriku sendiri. Tidak bisakah kamu hilangkan semual hal-hal yang mungkin menurutmu indah akan terjadi di hidupmu? Bukankah rasanya sakit jika skenariomu tidak berjalan sesuai dengan realita yang ada? Apakah kamu tidak berpikir nantinya akan menjadi harapan yang sebenarnya tidak akan menjadi kenyataan? Kamu jahat. Kamu menyakiti dirimu sendiri.
Seketika bayangan masa lalu terlintas begitu saja. Benar, bukan mereka yang meninggalkanku. Hanya skenario yang aku buat saja yang menjadikanku mempunyai harapan tinggi akan seseorang. Padahal memang alurnya sudah seperti itu. Ketika tiba saatnya mereka akan pergi. Aku lupa tepatnya pukul berapa mataku kembali terpejam, namun tidak benar-benar terlelap. Bahkan di dalam tidurku pun aku masih tetap bisa berpikir. Aku terbangun dengan suara alarm yang berbunyi lirih, padahal biasanya aku akan kesal karena suara itu benar-benar menggangguku. Suara yang mengingatkanku bahwa aku harus segera beranjak dari kasur, menembus padatnya kota Jakarta dan kembali berkutat dengan segala kesibukan seorang budak korporat.
Aku bangun dan segera melaksanakan shalat subuh, tidak lama setelah itu aku turun untuk sarapan di hotel. Tidak ada yang membuatku kesal akan hotel ini, sesuai harga. Tidak terlalu buruk, namun juga tidak membuatku sangat terkesan. Menikmati sarapan dengan melihat sekeliling yang memang kebanyakan keluarga atau pasangan muda, sedangkan aku? duduk dan sibuk sendiri. Aku pun tau beberapa pasang mata melihatku, mungkin juga menatap. Tapi aku pun tidak peduli dengan arti tatapan itu. Sekembalinya dari resto aku tertidur beberapa saat dan terbangun dengan adanya notif dari dia. Sekali lagi bukan seperti skenarioku. Aku berpikir dia akan menjawab pertanyaanku dengan jawaban iya atau tidak, namun ternyata jawabannya adalah sebuah pernyataan yang harusnya kita sudah tau arti dengan melihat konteksnya. Baiklah, aku tutup kembali ponselku dan berkemas untuk turun ke bawah. Sepertinya berenang akan membuat moodku lebih baik.
Tidak ada hal menarik yang terjadi. Aku memutuskan kembali ke kamar untuk bebersih diri dan akan turun lagi menuju resto untuk mengambil kopi dan setangkup roti. Namun lagi lagi aku dikejutkan oleh diri sendiri yang tiba-tiba terduduk dibawah shower. Air yang begitu panas sudah terguyur dengan derasnya ke seluruh badanku. Seketika aku mamandangi diriku, dan menangis tersedu-sedu. Aku peluk tubuhku dengan kaki terlipat ke dada. Aku meminta maaf sejadi-jadinya karena aku sendiri begitu kejam terhadap raga yang telah bersamaku selama 25 tahun ini. Hatiku sakit, aku menangisi betapa tidak baiknya aku dengan diriku. Derasnya kucuran air panas yang sedari tadi menghujani kepala dan punggungku tidak lagi terasa. Aku hanya menangis, aku menyesal. Apapun penyesalan itu tertuju kepada tubuhku. Entah berapa lama aku menangis dengan posisi seperti itu sampai aku tersadar dengan jari jemariku yang mulai mengerut dan membiru. Sama sekali aku tidak menyeka air mata yang jatuh begitu saja ke wajahku, untuk apa? Toh air mata itu pun larut bersama air panas tadi. Aku segera mematikan shower dan mengambil handuk. Selintas melihat cermin yang sudah penuh tertutup dengan embun karena hawa yang begitu panas.
Dengan keadaan yang begitu basah dan belum mengenakan pakaian, aku menuju kasur dan merebahkan diri. Ternyata cukup pusing juga menangis begitu lama. Aku kembali termenung. Rasanya seperti orang depresi saja. Masalah apa yang membuatmu jadi seperti ini? kembali tanyaku kepada diri sendiri. Aku lelah. Aku begitu lelah dengan perkara dunia. Aku pun rasanya sedang jauh dari Tuhan. Bukan karena Tuhan menjauhiku, tapi justru karena aku tidak mau mendekat. Bukan pula aku tidak bisa mendekat, aku bisa seperti biasa selalu mengadu kepada Nya. Aku hanya merasa sangat berdosa sampai aku malu untuk menghadap Nya. Aku begitu malu bahkan untuk meminta ampun atas dosa-dosaku apalagi meminta dikabulkan segala doaku. Shalat 5 waktu yang ku kerjakan akhir akhir ini pun hanya sebatas kewajiban saja, selebihnya? Aku belum bisa bercengkerama dengan Nya disepertiga malam yang selalu aku nantikan.
Cukup, jangan benci dirimu. Jangan tambahi luka di hatimu yang memang sudah terluka karena orang lain. Maafkan lah segala kesalahan, dan keburukanmu. Maafkan semua skenario yang selalu tanpa sengaja terbuat di otakmu. Pahamilah bahwa dunia yang hanya sementara ini bukan hanya tempat bersandiwara, namun juga untuk memerankan karakter terbaik yang nantinya akan dinilai disana. Terpikir juga olehku usia tidak ada yang tau. Bisa saja aku meninggalkan dunia ini besok atau lusa, bisa saja bulan atau tahun depannya. Atau bisa jadi aku sempat merasakan betapa bahagianya melihat seseorang mengucapkan janji suci di hadapan Allah, Bapak, penghulu dan para saksi untuk meminangku. Bisa jadi aku akan menitikkan air mata, terharu akan perjuanganku menjadi seorang Ibu dan melihat anak-anakku tumbuh dewasa bersamaku. Semua kemungkinan kemungkinan itu terbayang-bayang di pikiranku.
Waktu tetap berjalan selagi aku memikirkan semua itu. Akhirnya aku terbangun dan beranjak untuk turun ke bawah kembali. Hanya selang beberapa jam, dua kali aku memasuki resto dan seperti biasa aku tidak memedulikan staff hotel ataupun tamu lain disana. Segera ku ambil kopi dan sereal, tidak lupa beserta roti panggang yang sudah aku siapkan. Aku duduk kembali di meja yang tadi pagi aku duduki, dengan posisi yang sama membawa makanan di tangan dan pandanganku menyapu sekeliling resto. Tetap saja hanya aku yang sarapan sendiri, bahkan dua kali. Sampai aku dikagetkan oleh staff hotel yang memberitahu bahwa waktu sarapan telah habis. Artinya aku harus segera angkat kaki dari sana. Ku jawab dengan anggukan kepala dan senyum tipis yang membuatnya mengerti seakan aku berkata, “iya paham, setelah ini akan pergi jadi tenang saja”. Aku kembali menuju kamar dan mempersiapkan diri untuk check out, sepertinya aku ingin naik commuter line saja. Ku nikmati jalan kaki sejauh 450meter menuju stasiun dibawah teriknya panas matahari Jakarta. Sudah lebih dari satu tahun aku hidup di kota ini dan belum juga terlintas dalam pikiranku untuk pulang ke Salatiga. Aku bahkan malah sibuk menerka-nerka hal baik atau buruk apa lagi yang akan aku temui di kota yang kata orang kejam ini.
Kurang dari 24jam aku menyendiri di salah satu sudut kota Jakarta, dan kesendirian itu benar-benar membuat mataku terbuka. Bisa jadi perasaan ketertarikanku terhadap seseorang selama ini bukan karena dia menarik, bukan juga karena dia istimewa. Aku terlalu cepat menyimpulkan bahwa dia menarik bukan karena apa yang ada didirinya. Mungkin perasaan ini, ketertarikan ini hanyalah skenario dalam pikiranku karena dia melakukan hal yang menurutku menarik. Sekali lagi, aku tertarik terhadap seseorang karena apa yang aku pikirkan menarik bukan karena dia memang menarik. Benar saja, kita membutuhkan waktu dan proses untuk menilai sesuatu.